Image Hosting


foto : reihan/linggau pos
IKM : Asisten II Setda Kota Lubuklinggau, H Hermansyah Unip menerima sekapur sirih saat acara pembukaan Festival Seni Budaya Minang dan Bazaar IKM (Ikatan Keluarga Minang) Kota Lubuklinggau 2010, Sabtu (27/3).



LUBUKLINGGAU- Pembukaan kegiatan Festival Seni Budaya Minang dan Bazaar IKM (Ikatan Keluarga Minang) Kota Lubuklinggau 2010, Sabtu (27/3), di lapangan Eks Kompi Bantuan Taba Pingin berlangsung lancar.
Meskipun cuaca kurang bersahabat lantaran turun hujan menjelang acara pembukaan kegiatan tersebut, tidak mengurangi semangat para anggota panitia pelaksana maupun warga Minang yang hadir.
Perhelatan dimulai pukul 20.30 WIB diawali dengan ajakan Ketum (Ketua Umum) IKM Kota Lubuklinggau, H Harun Rasyid, kepada hadirin agar membaca ummul kitab (Surat Alfatiha) dipersembahkan kepada almarhumah Hj Amsyah Sohe binti H Somad Mantab (ibunda Wawako SN Prana Putra Sohe).
“Hadirin sekalian kita semua merasa kehilangan dan sedang berduka cita, atas wafatnya ibunda tercinta dari Wawako SN Prana Putra Sohe. Marilah kita iringi almarhummah dengan doa dan membaca ummul kitab, Alfatiha,” ajak H Harun Rasyid seraya menundukkan kepala dan menengadahkan kedua tangannya.
Selanjutnya kepada walikota yang diwakili Asisten II Setda Kota Lubuklinggau, H Hermansyah Unip, serta hadirin Harun mengungkapkan latar belakang penyelenggaraan kegiatan perdana tersebut. Salah satunya dalam rangka mempererat tali silaturahim antara sesama perantau Minang. Selain itu memiliki tujuan jangka pendek aksi penggalangan dana untuk merampungkan pembangunan gedung IKM Bundo Kanduang Lubuklinggau.
Dikatakan Harun, warga perantau Minang sudah cukup lama berdomisili di Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Musi Rawas (Mura). IKM sebagai induk organisasi yang mewadahi 15 kelompok etnis Minang di kedua daerah tersebut, berdiri sejak 1976 dan sudah mengalami enam kali priodisasi kepemimpinan. Antara lain, HR Dt Pamuntjak, Tarmizi (Mantan Kasdim 0406 Mura), Herman Rahim, St Ruslan Muis, Novendri dan Ketua IKM sekarang, H Harun Rasyid.
“Dengan demikian kedatangan perantau Minang khususnya ke kota ini jangan diragukan lagi. Daerah inilah tujuan dan tempat tinggal kami, bukan sekedar rumah, toko, sarana ibadah saja kami bangun. Tempat pemakaman untuk warga Minang pun telah kami siapkan. Hal demikian menunjukkan arti bahwa orang Minang siap hidup dan mati di sini,” ungkap Harun.
Masih menurut Harun, hingga sekarang jumlah komunitas warga Minang di Kota Lubuklinggau mencapai 16 ribu jiwa. Mayoritas beraktivitas sebagai pedagang baik grosir, distributor, partai besar hingga PKL (Pedagang Kaki Lima).
“Oleh karena itu keberadaan komunitas Minang erat kaitannya dengan arah kebijakan dan visi pembangunan Pemkot Lubuklinggau. Seperti ingin mewujudkan Lubuklinggau menjadi kota unggul dalam jasa perdagangan. Pada satu sisi kadang-kadang rawan dan berbenturan pula dengan penertiban PKL,” sindirnya.
Sementara Hermansyah Unip membacakan naskah pidato Walikota H Riduan Effendi, mengapresiasi dan menyambut positif kegiatan tersebut. Bahkan walikota meminta agar IKM Lubuklinggau dapat menyelenggarakannya secara teratur dalam kurun waktu tertentu.
“Saya mendengar bahwa salah satu tujuan penyelenggaraan kegiatan ini untuk merampungkan pembangunan gedung IKM Bundo Kanduang Lubuklinggau. Saya berharap libatkan semua elemen masyarakat Kota Lubuklinggau. Karena misi tersebut misi budaya, dan pada gilirannya menjadi kebanggaan warga kota. Bahkan tidak menutup kemungkinan bisa memberikan kontribusi PAD (Pendapatan Asli Daerah) melalui sektor seni dan budaya. Intinya, budaya Minang milik bangsa dan kebanggaan bersama,” saran dan arahan walikota.
Pada kesempatan sama Ketua BMKM (Badan Musyawarah Keluarga Minang) Kota Lubuklinggau, Asnel, meminta semua warga Minang yang ikut dalam kegiatan tersebut agar mempunyai tujuan sama. “Marila saling memelihara dan menjaga, jangan sampai mencoreng kening orang Minang sendiri. Mudah-mudahan apa yang dicita-citakan melalui acara ini bisa tercapai,” pinta Asnel.
Sebelumnya Ketua Panitia Pelaksana, Sulfi Hendra (Paul), mengutarakan bahwa panitia menyiapkan 100 tenda. Terdiri dari 88 tenda untuk pedagang aneka produk, 8 unit tenda promo dan 4 unit tenda istimewa. “Disebut istimewa karena satu tenda bisa digunakan 3 hingga 4 pedagang,” ujarnya.
Hingga acara pembukaan ini, lanjut Paul, sudah 93 unit tenda yang terpakai. Peserta bazaar yang menempati tenda-tenda tersebut pedagang Minang dari Kota Lubuklinggau, Mura, Palembang, Jakarta, Lampung, Bengkulu, Curup Jambi, Padang dan Bukit Tinggi.
“Keberlangsungan kegiatan ini tidak terlepas dari partisipasi PT Semen Padang (Persero) Tbk, sebagai sponsor utama. Hal ini terkait pula dengan HUT ke-100 (seabad) perusahaan semen tersebut dalam membangun negeri. Tidak banyak perusahaan kebanggaan Indonesia berusia sedemikian,” tambah Paul.
Rangkaian acara pembukaan kegiatan Festival Seni Budaya Minang dan Bazaar IKM Kota Lubuklinggau 2010 ini semakin meriah, saat penampilan pentas seni IPM (Ikatan Pemuda Minang) Lubuklinggau. Ditambah lagi tembang merdu masing-masing oleh H Harun Rasyid, H Hermansyah Unip, Sulfi Hendra dan Ketua IPM Lubuklinggau, Yayan Rasyidi.(12)

0 komentar

Posting Komentar

Image and video hosting by TinyPic
Image Hosting

Pak Luuuuuuuuuurrrr...!!!

Tivi Dewek
“Mekak kite laade tivi dewek lamulai tayang dan pacak noton bola,” Kate Mamad. “Name hetu mad, tivi dewek tu, awo musim bola” tanye Pak Lur.
“La tula we tipi wang kite kak ugek acara tv gok wang aseng tua,’ uji Mamad. “Wai la pakam nia man tu, pacak le kite kak noton tivi dewek men gek tu,” uji Pak Lur.
“Nah biaso’a wang mosem bola kak benyak nobar,’ uji Mamad. “ lah nobar le nga kak, ape nobar tu” uji Pak Lur.
“Lah nonton bareng, uji wang mekak tu” kate Mamad. “Ah col kade mad, nak gek nobar nia mun de tivi dewek noton dewek,’ kate Pak Lur. “Nah pi hare le mun col antena e, masih nak nobar le” kate Mamad.(*)

    ARSIP BERITA