LUBUKLINGGAU- Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, setiap kawasan daerah di Indonesia dipenuhi oleh bendera Merah Putih. Tak terkecuali Kota Lubuk Linggau. Momen ini juga menjadi peluang bagi para pengusaha pembuatan bendera merah putih.
Imun Sofian (21), penjual bendera di Jalan Yos Sudarso Kelurahan Watervang, Kecamatan Lubuklinggau Timur I, niatnya meninggalkan Kota Bandung dan mengais rejeki di kota berslogan Sebiduk Semare dengan menjual bendera merah putih, mampu sedikit merubah nasibnya menjadi lebih baik. Meski profesi tetapnya sebagai tukang ojek, setiap menjelang 17 Agustus mulai Sabtu (17/7) hingga 16 Agustus mendatang dimanfaatkannya untuk beralih profesi sebagai penjual bendera, umbul-umbul, dan baleho merah putih.
Sejak pukul 07.00 WIB, Imun Sofian dibantu rekannya, Tisna (23) telah membuka lapaknya di pinggir Jalan Yos Sudarso. Di hadapan mereka terpajang beberapa buah umbul-umbul, baleho, dan bendera merah putih dan aneka warna yang lain. Dan ketika matahari tak lagi menampakkan sinarnya, pukul 17.00 WIB mereka bergegas untuk pulang menuju kontrakannya.
Dengan modal Rp 10 juta dalam setiap penjualan, Sofian panggilan akrab Imun Sofian mengaku mampu mengasilkan untung Rp 3 juta. “Barang yang kami jual ini kami bawa langsung dari Bandung, meskipun resikonya besar, kami yakin mampu mencapai target di Lubuklinggau,” ujarnya kepada wartawan koran ini, Jumat (16/7).
Untuk menarik pembeli dan pelanggan, Sofian mencoba menawarkan barang dagangannya di sekolah-sekolah, kantor, dan pemukiman penduduk. Sebuah umbul-umbul ditawarkannya dengan harga Rp 20 ribu, dekor Rp 30 ribu dan bendera Rp 15 ribu. Hingga saat ini pesanan dari pelanggan mulai berdatangan. “Pelanggan kami banyak dari guru-guru sekolah. Mereka sering membeli dekor dalam jumlah yang banyak,” jelas Sofian.
Lima tahun mengais rejeki di Lubuklinggau membuatnya yakin kota ini lebih menjanjikan kesuksesan usahanya. Sebab, sebelumnya Sofian pernah mencoba mengadu nasib di kota Palembang dengan profesi yang sama. Ketatnya persaingan membuat Sofian memutar otak dan berpindah tempat usaha di Kota Lubuklinggau.
Pengalaman pahit bukan lagi menjadi momok baginya. “Saya siap dengan resiko apapun, dulu waktu di Palembang pernah dalam satu bulan hanya terjual tiga bendera, akhirnya untuk ongkos pulang ke Bandung pun tidak cukup. Oleh sebab itulah tahun inipun stok yang kami bawa agak dikurangi,” jelas Sofian.(Mg03)





0 komentar