LUBUKLINGGAU- Populasi Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae,red) di kawasan Hutan Nasional Kerinci Sebelat (TKNS) terancam punah, akibat aksi perburuan dan aktivitas pembalakan hutan secara liar. Berdasarkan data yang ada di kantor TNKS, populasi Harimau Sumatera tinggal 50-100 ekor lagi.
Kepala Seksi Pengelolaan TNKS wilayah V Kota Lubuklinggau-Kabupaten Musi Rawas (Mura), Muhammad Zainuddin menerangkan, jejak rekam hidup keberadaan Harimau Sumatera masih dapat dijumpai di kawasan TNKS wilayah Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan (Sumsel) dan Sumatera Barat (Sumbar). Khusus di Kabupaten Mura, hewan pemakan mamalia, seperti Babi Hutan, Rusa dan Kijang itu terdapat di wilayah Kecamatan Selangit dan Karang Jaya.
Menurut Zainuddin, perkembangbiakan Harimau Sumatera lambat laun terus mengalami penurunan dikarenakan kerusakan habibat, perburuan dan pola ladang berpindah-pindah yang kerap dilakukan masyarakat. “Antisipasi supaya hewan langka ini tetap lestari dan berkembang biak dengan cara melakukan operasi terpadu dan sosialisasi kepada masyarakat setempat agar tidak membunuh hewan tersebut serta meninggalkan pola ladang berpindah,” jelasnya.
Sementara itu, berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber, Harimau Sumatera dapat ditemukan di hutan dataran rendah hingga hutan pegunungan. Harimau dewasa mencapai panjang 2.4 meter mulai dari hidung hingga ujung ekor. Biasanya tubuh harimau jantan lebih besar dari pada betina. Harimau Sumatera adalah terkecil diantara sub jenis harimau yang ada, dengan berat hingga 170 KG.





0 komentar