Image Hosting

Telkomsel Menjamin Aman 

LUBUKLINGGAU- Warga Jalan Durian, Kelurahan Taba Jemekeh, Kecamatan Lubuklinggau Timur I mengkhawatirkan keberadaan tower Telepon seluller milik Telkomsel. Pasalnya antena menyerupai parabola yang ada di atas tower itu jumlahnya terus bertambah. 

“Kami takut tower itu tidak kuat menahan beban antena yang terus ditambah,” demikian diungkapkan warga setempat, Irna kepada wartawan koran ini di kediamannya, Selasa (13/7).
Disamping itu, dia mengaku khawatir antena di atas tower yang dibangun pada 2002 lalu itu jatuh. “Kalau peralatan itu jatuh dan mengenai rumah kami atau mengenai warga, siapa yang bertanggungjawab,” katanya nada bertanya.

Sebab, menurut dia, antena yang ada di atas tower milik Telkomsel itu bukan hanya milik Telkomsel akan tetapi juga ada miliki operator seluller lain. Sebab Telkomsel juga menyewakan tower kepada pihak lain. “Antena milik operator seluller lain juga ada di atas tower ini. Sehingga wajar saja kalau antena itu terus bertambah jumlahnya. Bahkan pernah kejadian saat teknisi sedang memasang antena di atas tower peralatannya ada yang jatuh tepat di depan rumah saya.

Namun untunglah tidak mengenai anak saya yang sedang bermain,” ucapnya sambil menunjukan kunci baut yang jatuh dari atas tower itu. 

Irna, juga mencemaskan petir sering menyambar. “Bahkan peralatan elektronik milik kami pernah terbakar akibat disambar petir,” ucapnya. Bukan itu saja dia, juga takut pengaruh radiasi dari pemancar Telepon selluler itu. “Kami takut pengaruh radiasi, yang dapat merusak otak. Kita tidak tahu dapak negatif yang akan terjadi ke depan, kalau sudah terjadi mau diapakan lagi. Lebih baik, saya protes dari sekarang,” paparnya.
Terkait keluhan warga terhadap tower Telepon seluller, Koordinator LSM Sumpah Undang-Undang (SUU) Kota Lubuklinggau dan Kabupaten Musi Rawas (Mura), Herman Sawiran, mendesak Pemkot Lubuklinggau menurunkan tim untuk mengevaluasi keberadan tower Telepon seluller. “Pemkot Lubuklinggau harus menyikapi keluhan ini jangan sampai menimbulkan keresahan di masyarakat,” tegasnya.
Manajer Telkomsel cabang Lubuklinggau, Deni, saat dikonfirmasi wartwan koran ini menjelaskan, penambahan antena di atas tower sudah melalui perhitungan teknis. Pihak Telkomsel tidak akan menambah antena jika kemampuan beban tower sudah cukup. “Dalam artian Telkomsel tidak sembarangan menambah antena akan tetapi sudah melalui perhitungan yang matang,” jelasnya.
Jika terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan, lanjut Deni, pihaknya bertanggungjawab. Misalnya antena jatuh mengenai rumah warga maka Telkomsel akan mengganti 100 persen kerugian warga yang ditimbulkan atas kejadian tersebut.

Lagi pula lanjut dia, pihaknya sudah mengansuransikan rumah warga sekitar tower hingga radius ketinggian tower. “Maksudnya jika tinggi tower 72 meter maka rumah warga yang kami asuransikan hingga radius 72 meter, baik pada sisi utara, selatan, timur dan barat,” paparnya. 

Dia tidak menampik, pihaknya juga menyewakan tower kepada operator lain. “Jadi, mengenai perawatan dan pengontrolan tower bukan hanya dilakukan pihak Telkomsel akan tetapi juga dilakukan oleh pendor-pendor Telkomsel. Sehingga perawatan tower terkontrol dengan baik.
Mengenai petir, kata dia lagi, warga sekitar tidak perlu khawatir, karena tower itu sudah dilengkapi penangkal petir atau sistem grounding. Ketika ada petir langsung dinetralisir ke bumi, sehingga tidak menyambar ke rumah warga. Kalau pun terjadi kerusakan peralatan elektonik milik warga akibat disambar petir pihak Telkomsel akan memperbaikinya. “Kalau mamang alat eletronik warga sekitar disambar petir, akan kami perbaiki,” janjinya.
Dia juga, mengungkapkan sistem grounding di tower itu sering dicuri orang. Namun dia tidak tahu siapa yang melakukannya. Namun yang jelas pihaknya selalu mengontrol grounding, jika hilang atau rusak cepat diperbaki. Disamping itu jika sistem grounding rusak atau dicuri cepat diketahui pihaknya. Sebab sistem alarm yang terpasang akan berbunyi, sehingga dalam waktu kurang dari 12 jam grounding yang hilang langsung diganti.
Mengenai radiasi, pemancar Telepon seluller tidak menimbulkan radiasi. Sebab pemancar Telepon seluller tidak menimbulkan medan elekro mahnetik akan tetapi memancarkan frekwensi. Bahkan para akhli kesehatan saat ini menggunakan gelombang frekwensi untuk penyembuhan berbagai penyakit. “Gelombang frekwensi itu dipasang dialat kesehatan seperti kursi pijat yang banyak ditawarkan,” ucapnya.

Dia menerangkan mengenai, jaringan Telkomsel di Kecamatan Cecar, Kabuapten Musi Rawas (Mura) yang sering padam disebabkan padamnya aliran listrik PLN. Tower Telkomsel memang dilengkapi carger yang mengsisi secara otomatis ketika aliran listrik menyala. Ketika aliran listrik padam maka pengoperasian pemancar frekwensi menggunakan carger. “Namun persoalannya carger sering hilang dicuri orang. Itu persoalannya sehingga ketika aliran listrik padam sinyal Telkomsel di kawasan tersebut terganggu,” pungkasnya.(06)

0 komentar

Posting Komentar

Image and video hosting by TinyPic
Image Hosting

Pak Luuuuuuuuuurrrr...!!!

Tivi Dewek
“Mekak kite laade tivi dewek lamulai tayang dan pacak noton bola,” Kate Mamad. “Name hetu mad, tivi dewek tu, awo musim bola” tanye Pak Lur.
“La tula we tipi wang kite kak ugek acara tv gok wang aseng tua,’ uji Mamad. “Wai la pakam nia man tu, pacak le kite kak noton tivi dewek men gek tu,” uji Pak Lur.
“Nah biaso’a wang mosem bola kak benyak nobar,’ uji Mamad. “ lah nobar le nga kak, ape nobar tu” uji Pak Lur.
“Lah nonton bareng, uji wang mekak tu” kate Mamad. “Ah col kade mad, nak gek nobar nia mun de tivi dewek noton dewek,’ kate Pak Lur. “Nah pi hare le mun col antena e, masih nak nobar le” kate Mamad.(*)

    ARSIP BERITA