LUBUKLINGGAU-Bukit Sulap bukan hanya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan kepariwisataan saja. Akan tetapi bukit yang memiliki ketinggian 400 meter dari permukaan laut (dpl) itu akan dijadikan tempat menentukan jadwal shalat, puasa Ramadhan, 1 Syawal dan hari-hari besar umat Islam.
Informasi tersebut terungkap dalam audiensi jajaran Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Lubuklinggau dengan Walikota, H Riduan Effendi di ruang kerja Walikota, Sabtu (31/7).
Kakan Kemenag Kota Lubuklinggau, Saidi mengatakan, Bukit Sulap bisa dan sangat cocok menjadi tempat melihat/menentukan hisab rukat. “Ketinggian Bukit Sulap mencapai 400 meter dpl menjadi pertimbangan pemerintah pusat untuk menetapkan jadwal ibadah. Namun sebelumnya kita harus membentuk Badan Hisab Rukyat (BHR) Kota Lubuklinggau. Sebab BHR yang berkompeten untuk menentukan jadwal ibadah. Dan kita sudah memiliki tenaga akhli hisab rukyat,” ungkapnya.
Diharapkan BHR Kota Lubuklinggau segera terbentuk. Kepengurusan badan independen ini di putuskan melalui SK Walikota. “Selain membentuk BHR, untuk menjadikan Kota Lubuklinggau menjadi tempat menentukan jadwal ibadah, perlu dukungan peralatan. “Makadari itu kami mengusulkan kepada Pemkot Lubuklinggau untuk membantu menyediakan peralatan yang diperlukan,” harapnya.
Disamping mengutarakan program tersebut Kakan Kemenag juga, membahas persiapan menyambut bulan suci Ramadhan. Kemenag dan Pemkot Lubuklinggau menyamakan visi dan misi mengenai penjadwalan waktu imsakiah dan jadwal shalat.
Ia meminta kepada Pemkot Lubuklinggau agar menyampaikan himbauan atau peringatan kepada masyarakat, pengusaha rumah makan dan tempat hiburan agar memperhatikan nilai-nilai kesucian Ramadhan.
Saidi, juga sempat mengutarakan kepada Walikota mengenai Masjid Agung As Salam yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Sebab hingga kini masjid yang berada di samping Lapangan Merdeka belum ada kegiatan Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA). Kalau melihat masjid-masjid lain sudah ada TPA. Di Masjid Agung As Salam belum ada padahal sangat memungkinan untuk mengadakan TPA, bahkan Diniyah . Dalam rangka untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak usia dini tentang ajaran-ajaran Islam kita perlu membentuk TPA dan diniyah. Disamping itu masjid kebanggan masyarakat Kota Lubuklinggau itu kurang semarak.
“Kemenag merasa punya beban moral juga. Maka dari itu saya mengatakan kepada pak wali bangimana caranya agar kesemarakan Masjid Agung As Salam dapat ditingkatkan khususnya bulan Ramadhan dan jangka panjang juga,” harapnya.
Menurut Saidi, Walikota sangat antusias mendukung program Kantor Kemenag Kota Lubuklinggau tersebut. “Pak wali sangat mendukung. Bahkan dana untuk pengadaan peralatan hisab rukyat akan dianggarkan pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun anggaran 2011,” ucap Saidi.
Walikota berjanji pihaknya akan memfasilitasi pembentukan BHR. “Secepatnya BHR akan dibentuk. Kalau BHR belum dibentuk belum bisa membuat statement terkait penentuan jadwal ibadah umat Islam,” ucapnya.
Ditambahkan Walikota, pihaknya akan menganggarkan untuk membeli peralatan yang diperlukan untuk menetukan hisab rukyat seperti GPS (Global Positioning System) misalnya. Namun Kantor Kemenag Kota Lubuklinggau mesti mengusulkan kepada Pemkot sehingga nantinya bisa dianggarkan. “Kalau disulkan, Insya Allah 2011 akan dianggarkan,” papar Walikota.
Kalaupun natinya, BHR dapat segera terbentuk dalam waktu dekat ini, sedangkan peralatan belum ada, pihaknya akan memfasilitasi meminjamkan GPS kepada Argaria (Badan Pertanahan Nasional, red). “Bisa juga kita memijam GPS milik Bandara Silampari,” ucapnya.
Walikota sependapat untuk menyemarakkan Masjid Agung As Salam. “Saya sangat setuju mendirikan TPA di Masjid Agung As Salam,” katanya. Terkait menjelang Ramadhan, Walikota menghimbau warga Kota Lubuklinggau menghormati orang yang menjalankan ibadah puasa. (06)





0 komentar