LUBUKLINGGAU-Sebelum rekanan membuat Detail Engineering Desain (DED) hendaknya melakukan pemantauan lokasi terlebih dahulu. Tujuannya, supaya mengetahui kondisi lokasi yang akan dilaksanakan pembangunan.
“Sebab, keberhasilan pelaksanaan pembangunan tergantung pada pemantauan awal di lapangan. Jangan malah ‘nembak diatas kuda’ dalam membuat atau merencanakan sebuah rancang bangunan fisik. Sehingga saat pelaksanaan pembangunan terkadang menimbulkan masalah,” kata Asisten III Setda Kota Lubuklinggau, Rahman Sani, ketika mendengarkan paparan konsep perencanaan pembangunan taman Lapangan Merdeka oleh kosultan perencana Prima Sriwijaya Tehnik di Op Room Dayang Torek, kantor Walikota Lubuklinggau, Jalan Garuda Kelurahan Kayu Ara, Kecamatan Lubuklinggau Barat I, Senin (14/12).
Pernyataan tersebut dilontarkan Asisten III, karena pihak rekanan dalam membuat DED taman terkesan tidak mengamati secara cermat kondisi lahan dan bangunan yang ada di sekitarya, sehingga terkesan ‘nembak diatas kuda’. Buktinya, dari gambar yang ditayangkan pihak rekanan tidak menyebutkan nama jalan yang mengitari alun-alun Kota Lubuklinggau.
Rahman Sani menambahkan, Pemkot Lubuklinggau menyambut baik perencanaan pembangunan taman kota. Namun, handaknya perencanaan benar-benar akurat baik menyangkut nama jalan, kondisi lahan dan bangunan yang ada di sekitarnya. Sehingga masing-masing elemen pendukung bisa menjadi satu kesatuan. “Programnya sangat baik sekali. Kalau perencanaan disetujui oleh semua pihak, insyaallah biaya pembangunan taman itu akan dianggarkan lewat APBD Kota Lubuklinggau tahun 2011,” jelasnya.
Dalam paparan itu berbagai masukan disampaikan sejumlah dinas dan instansi di lingkungan Pemkot Lubuklinggau. Perencanaan pembangunan taman kota itu membutuhkan dana Rp 3.499.980.000. Taman tersebut dirancang sedemikian rupa dan akan dilengkapi WC umum, penambahan tanaman di sekitar taman, dan dibangun air mancur.
Salah satu saran disampaikan Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kota Lubuklinggau, Erwin Armeidi, pembangunan taman hendaknya dibangun pula WC umum. “Percuma saja ada taman di jantung Kota Lubuklinggau tanpa adanya fasilitas WC umum di sekitarnya. Karena ketika penilaian Adipura, pihak panitia pasti menanyakan dimana letak WC umumnya. Kemudian kami minta konsultan menghitung kembali apakah sudah cukup jumlah pohon yang akan ditanam untuk penghijauan di taman kota tersebut,” kata Erwin.
Sementara perwakilan konsultan perencanaan Prima Sriwijaya Teknik, Sazili mengaku, menerima semua masukan positif dari berbagai pihak. Adapun perencanaan yang mereka buat bertujuan untuk mendapatkan suatu rancangan fisik kawasan hijau di wilayah perkotaan yang selaras dan serasi. “Kami juga berharap taman kota itu menjadi salah satu alternatif kawasan obyek wisata bagi masyarakat, dan menjadi paru-paru kota yang dapat mengurangi polusi asap kendaraan di sekitar kawasan,” pungkasnya.
Berdasarkan DID yang dibuat pihak rekanan tersebut ada tujuh jenis tanaman guna mempercantik taman di lapangan bersejarah itu, yakni pohon angsa atau dalam bahasa pertanian Pterocarpus Indicus Willd. Kemudian pohon mahoni (Swietenia Mahogani Jscg), palem putrid, tanaman asoka, pohon ketapang, bunga tanjung dan rumput gajah. (02)
0 komentar