*Hasilnya Semua Legal
LUBUKLINGGAU-Forum Komunikasi Panti Asuhan Kota Lubuklinggau (FK PALL) dan Forum Komunikasi Pekerja Sosial Masyarakat (FK PSM) serta Dinas Sosial (Dinsos) Kota Lubuklinggau mengadakan inspeksi mendadak (Sidak) keseluruh Panitia Asuhan (PA) yang ada di Kota Lubuklinggau. Sidak tersebut dilakukan terkait beredarnya kabar disinyalir ada PA fiktif.
Tim berjumlah empat orang terdiri dari pihak Dinas Kota Lubuklinggau, Salpin jabatan Kasi Bimbingan dan Penyuluhan. Kemudian Ketua FK-PALL, Indra Rozak, didampingi sekretaris, Suhardi Rais dan Ketua FK PSM Shidiq Amien sidak dimulai Pukul 13.00 WIB hingga pukul 19.00 WIB.
Menurut Indra Rozal, berdasarkan hasil Sidak di lapangan, terdapat tujuh PA dan satu panti jompo. “Dari ketujuh PA yang kami sidak semuanya legal dan sudah tergabung dalam FK-PALL. Legalitas dimaksud memiliki izin operasional baik dari Kota Lubuklinggau, Provinsi Sumsel hingga pemerintah pusat,” jelasnya.
Dia menambahkan, adapun PA yang ada di Kota Lubuklinggau yakni Masthuroh, Hubul Aitam, Masitho, Siti Khodijah, Al Amin, Lukman Nulhakim dan Muhammadiyah.
Semua PA tersebut memiliki anak asuh.
“Kami sudah membuktikannya dengan cara diabsen satu persatu. Jumlah anak di PA sesuai dengan jumlah yang didaftarkan pihak panti untuk Masthuroh 87 anak, Hubul Aitam 57 anak, Masitho 52 anak, Siti Khodijah 40 anak, Al Amin 37 anak, Lukman Nulhakim 27 anak dan Muhammadiyah 40 anak.
Selain itu kami juga sidak ke panti jompo jumlahnya ada 37 Manula,” ungkapnya.
Indra Rozak menguraikan jenis bantuan yang mengalir ke PA. Khusus 3 PA yakni Masthuroh, Siti Khodijah dan Masitho mendapatkan bantuan dari Yayasan Darmais Rp 2 juta per bulan. Dikalkulasikan untuk 40 anak, sehingga dibagi Rp 5 ribu per hari untuk satu anak. Kemudian ada lima panti mandapat bantuan kompensasi BBM dari pemerintah pusat Rp 2.500 per hari untuk 30 anak.
Selain itu PA juga mendapat bantuan jaminan hidup (Jadub). Bantuan tersebut dari Pemprov Sumsel Rp 1.500/anak jatah untuk 15 anak. Selain itu juga secara insidentil ada bantuan dari donatur. Ada juga beberapa PA memiliki donatur tetap. Disamping bantuan tadi ada juga bantuan dari Pemkot Lubuklinggau baik yang disalurkan melalui Dinsos maupun dari Kesra Satda Kota Lubuklinggau. Disamping itu Walikota Lubuklinggau, Riduan Effendi secara pribadi juga sering memberikan bantuan. Bantuan dari Pemkot sifatnya insidentil, misalnya, saat peringatan ulang tahun kota, dan dalam momentum lainnya.
“Sumbangan yang mengalir ke PA rata-rata per bulan paling tinggi Rp 2,5 juta per bulan. Data tersebut untuk seluruh panti. Tidak ada PA yang dapat bantuan lebih dari Rp 2,5 juta per bulan,” ungkapnya.
Dia mengakui, memang ada pengurus panti yang membeli mobil. Itupun menggadaikan SK PNS. Mobilnya pun digunakan untuk antar jemput anak panti yang sekolah. Sebab, anak PA dimaksud sekolah diluar lingkungan PA dan mereka tidak memiliki sekolah sendiri.
“Selain itu berdasarkan hasil temuan kami, memang ada pengurus panti yang menjual beras. Karena stok beras mereka cukup banyak dari pada mubazir sehingga dibarter dengan keperluan lainnya, seperti sabun mandi, pasta gigi (odol) dan lain-lain untuk keperluan anak PA,” urainya.
Dengan demikian, lanjut dia, tidak ada PA fiktif di kota ini. Semua panti memiliki anak asuh dan data sumbangan jelas. Untuk itu dia mengimbau kepada masyarakat khususnya yang berdomisili di dekat PA untuk sama-sama membina dan mengawasi PA yang berada di lingkungannya. “Kalau ada temuan laporkan kepada kami. Dan kami siap untuk menindaklanjuti,” ajaknya. (02)





0 komentar