LUBUKLINGGAU-Direncanakan hari ini (Senin,red), terminal Tipe B Petanang Kecamatan Lubuklinggau Utara I difungsikan. Dengan demikian semua angkutan desa (Angdes) tidak diperkenankan masuk ke pusat Kota Lubuklinggau.
Guna mengefektifkan pengoperasian terminal itu, Pemkot Lubuklinggau menempatkan tim di sejumlah titik yang sering dijadikan ‘jalan pintas’ oleh sopir Angdes dari arah utara guna menghindar masuk terminal.
Bahkan menurut Sekda Kota Lubuklinggau, Akisropi Ayub, tim yang sudah dibentuk melalui keputusan Walikota Riduan Effendi siap mengarahkan Angdes, Angkot, dan angkutan umum lainnya, seperti angkutan barang dan bus untuk masuk kedalam terminal. “Angdes dan Angkot harus ngetem di dalam terminal,” jelas Sekda.
Ditambahkan mantan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kota Lubuklinggau ini, guna mengantisipasi kemungkinan Angdes menggunakan jalan pintas untuk menghindari masuk terminal, maka pihaknya sudah menyiapkan tim yang ditempatkan di beberapa lokasi, diantaranya dipertigaan jalan masuk Kelurahan Petanang, dan pertigaan Kelurahan Siring Agung Kecamatan Lubuklinggau Selatan I.
Jalur tersebut menjadi jalan alternatif bagi sopir Angdes dari arah utara untuk menghindari masuk terminal Tipe B. “Angkutan umum yang sengaja mengelak masuk terminal akan dikenakan sanksi,” tegas Akisropi.
Dijelaskan Sekda, sesuai dengan ketentuan yang berlaku pelanggaran angkutan jalan kemungkinan Polantas akan menilang surat-surat kendaraan. “Bisa saja ditilang,” tegasnya.
Tim pengoperasian terminal terdiri dari unsur Polisi Militer (PM), TNI, Polri, Dinas Perhubungan dan Komunikasi Informasi (Dishubkominfo), Satuan Polisi Pamong Praja (Sat Pol-PP), Organisasi Angkutan Jalan (Organda). Dan forum angkutan desa (Angdes) serta forum angkutan kota (Angkot). “Semua komponen yang berhubungan dengan angkutan kami libatkan dalam tim. Sehingga tim dapat bekerja maksimal sesuai fungsi masing-masing,” urainya.
Sekda mengakui, di terminal tersebut masih banyak kekurangan. “Kami mengakui memang di sekitar terminal belum ada pedagang sembako. Sehingga penumpang dari Angdes yang akan berbelanja sembako harus ke pasar yang ada di pusat kota,” akunya.
Namun paling tidak, kata Sekda, dengan dioperasikannya terminal itu perekonomian rakyat akan tumbuh. Maksudnya, setelah terminal beroperasi akan muncul pedagang, misalnya, warung kopi, warung nasi, atau mungkin penjual es. (02)





0 komentar