“Kalau di Pasar Inpres ini, lebih dari 200 ojek yang mangkal. Belum yang tidak mengkal. Apalagi menjelang lebaran ini, banyak masyarakat ingin belanja, dan mencari transportasi yang cepat dan murah. Ya Alhamdulillah ojek masih menjadi pilihan masyarakat,” jelas Herman (45), tukang ojek yang selalu mangkal di Pasar Inpres, saat ditemui waktawan koran ini, Senin (16/8).
Kalau didata, lanjut Herman, tukang ojek yang beroperasi di Kota Lubuklinggau ini lebih dari 10 ribu orang. Sebab kebanyakan tukang ojek menjadi pekerjaan paling simpel dan mudah dilakukan oleh masyarakat.
“Modal yang harus dikeluarkan, Rp 7 juta lebih untuk membeli motor second. Dan per harinya bensin yang dihabiskan lebih kurang 2 liter. Dari bensin 2 liter ini, kami dapat penghasilan minimal Rp 50 ribu/hari. Tapi kalau hari sudah ramai seperti ini bisa mendapat Rp 100 ribu/hari,” tambah Herman.
Pernyataan hampir sama juga dikatakan, Andrian. Menurut dia, warga lebih banyak memilih ojek menjadi alat transportasi pilihan karena murah. “Rata-rata untuk tujuan sekitar Kota Lubuklinggau yang terjauh sekalipun, tarifnya masih pada kisaran Rp 2 ribu sampai Rp 10 ribuan. Penumpang diantar sampai ke rumah mereka,” jelas Andrian (23).
Andrian merupakan salah satu ojek yang memilih tidak memiliki pangkalan. “Kalau mangkal, banyak saingan, terus biasanya memakai sistem gantian, tapi kalau seperti saya (Andrian) lebih memilih keliling. Meskipun harus siap bensin lebih banyak, tapi per harinya minimal bisa mendapat Rp 100 ribu,” jelas Andrian.
Sekarang ini, lanjutnya, banyaknya ojek di Kota Lubuklinggau karena hampir setiap penduduk di Kota Lubuklinggau memiliki sepeda motor. Jika mereka libur kerja, atau sekedar iseng, banyak yang mencari sambilan dengan menjadi tukang ojek. Meski hasilnya tidak terlalu menjanjikan, tapi ini bukan pekerjaan yang menyita waktu. Sebab sekaligus ‘ngojek’ bisa jalan-jalan. Terlebih waktu puasa, bisa sedikit mengusir kejenuhan di rumah.(Mg03)






0 komentar